Resume Artikel Ilmiah “Self-efficacy and anxiety of National Examination among high school students”
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara self-efficacy dan kecemasan menghadapi Ujian Nasional (UN) di kalangan siswa SMA di Lhokseumawe, Aceh. Dalam konteks pendidikan Indonesia, UN merupakan salah satu penentu kelulusan siswa yang meskipun tidak menjadi satu-satunya faktor penentu, namun seringkali menjadi sumber kecemasan yang signifikan bagi siswa. Kecemasan ini berpotensi mengganggu kinerja akademis siswa, bahkan dalam beberapa kasus ekstrem, memicu perilaku destruktif seperti bunuh diri. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2012, ditemukan bahwa sebagian besar siswa merasa cemas menghadapi UN. Kecemasan tersebut dapat menghambat kemampuan siswa dalam menampilkan performa terbaik mereka selama ujian, sehingga menimbulkan konsekuensi negatif baik secara akademis maupun psikologis.
Penelitian ini melibatkan 102 siswa kelas 12 dari SMAN 3 Lhokseumawe sebagai partisipan, dengan menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengukur kecemasan dan self-efficacy mereka. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Examination Anxiety Scale yang dikembangkan oleh Putri dan Qudsyi pada tahun 2014 serta Morgan-Jinks Students Efficacy Scale (MJSES) versi Indonesia. Examination Anxiety Scale terdiri dari 18 item yang terbagi menjadi dua subskala, yaitu fisiologis dan psikologis, untuk mengukur kecemasan siswa menjelang ujian. Sementara itu, MJSES juga terdiri dari 18 item yang terbagi dalam tiga subskala, yaitu bakat, konteks, dan usaha, yang digunakan untuk mengukur tingkat self-efficacy siswa.
Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara self-efficacy dan kecemasan menghadapi UN dengan koefisien korelasi sebesar r=-0,200 dan nilai p=0,022, yang menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat self-efficacy yang dimiliki siswa, semakin rendah tingkat kecemasan mereka menjelang UN. Temuan ini mengindikasikan bahwa self-efficacy berperan penting dalam mengurangi kecemasan yang dirasakan siswa. Secara khusus, self-efficacy berkontribusi sebesar 4% dalam menurunkan tingkat kecemasan siswa sebelum menghadapi ujian nasional. Hal ini konsisten dengan teori Bandura (1993) yang menyatakan bahwa keyakinan individu terhadap kemampuan diri mereka sendiri dapat mempengaruhi bagaimana mereka berpikir, merasakan, dan berperilaku dalam konteks akademis.
Penelitian ini juga mendukung temuan sebelumnya yang menyatakan bahwa self-efficacy memiliki hubungan negatif dengan kecemasan menjelang ujian. Misalnya, penelitian oleh Barrows et al. (2013) menemukan bahwa self-efficacy berfungsi sebagai variabel moderator dalam hubungan antara kecemasan dan skor ujian. Penelitian lain oleh Akin dan Kurbanoglu (2011) juga menunjukkan bahwa kecemasan siswa cenderung menurun seiring dengan meningkatnya self-efficacy. Dengan kata lain, siswa yang memiliki keyakinan lebih tinggi terhadap kemampuan akademis mereka cenderung lebih mampu mengelola kecemasan mereka dan, akibatnya, lebih siap menghadapi tantangan ujian.
Berdasarkan temuan ini, disarankan agar siswa terus meningkatkan self-efficacy mereka untuk mengurangi kecemasan menjelang UN dan mencapai hasil yang lebih optimal. Guru dan pendidik juga memiliki peran penting dalam memotivasi dan mendukung siswa untuk membangun self-efficacy yang kuat. Dengan demikian, mereka dapat membantu siswa menghadapi tantangan akademis dengan lebih percaya diri dan tenang. Penelitian lebih lanjut disarankan untuk mengkaji faktor-faktor lain yang mungkin mempengaruhi kecemasan siswa menjelang ujian, sehingga dapat dikembangkan intervensi yang lebih efektif untuk mendukung kesejahteraan psikologis dan akademis siswa.
Komentar
Posting Komentar